Suku bunga. Gambar: Freepik.
Assalamualaikum wr wb.
Marilah kita panjatkan puja dan puji kehadirat Allah Swt-Tuhannya manusia-sesembahan manusia. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, yang menghidupkan dan yang mematikan, dan yang membangkitkan kembali di kehidupan yang kedua. Mengadili dan membalas semua amal perbuatan manusia dengan ganjaran surga atau neraka.
Laailaahaillallah, Laailaahaillallah, Laailaahaillallah muhammadurrasulullah.
Shalawat serta salam mari kita ucapkan kepada nabi besar Muhammad Saw, sebagai utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan firman firmanNya.
Allahumma shalli ala muhammad
Wa ala ali sayyidina Muhammad.
Pada awal awal bulan ramadhan ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan juga kepada para muslimin dan muslimat, marilah kita bertakwa sebenar benar takwa. Menjalankan sepenuhnya perintah dan larangan Allah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuan kita masing masing. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al Baqarah ayat 286;
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ ﴿٢٨٦﴾
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
Dalam kehidupan modern saat ini, riba sudah menjelma menjadi suatu unsur yang membentuk sistem ekonomi modern saat ini. Semua ekonomi jual-beli, simpan-pinjam (menabung-meminjam), dan saham preferen pun tidak terlepas dari riba. Riba sudah membudaya dan mengakar pada sistem ekonomi negara. Muslim serasa tidak berdaya menghadapi keadaan yang seperti ini. Inilah ujian terberat sebagai muslim. Akan tetapi sebagai muslim tidak boleh pasrah dengan keadaan.
Instrumen dari riba adalah pinjaman uang/hutang. Instrumen hutang digunakan oleh pemilik uang/modal untuk mendapatkan keuntungan yang istilahnya saat ini disebut interest/bunga. Riba sendiri sudah ada sejak ribuan tahun lamanya. Riba menjadi musuh Islam yang sesungguhnya, dan Allah menentang keras keberadaan riba itu sendiri.
Keberadaan riba dari masa ke masa bukanlah bertambah surut, melainkan justru semakin mengakar dan membudaya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Tidak hanya dalam lingkup kecil, melainkan sudah mengglobal. Sistem ekonomi dunia saat ini telah menganut riba sebagai patokan, alat ukur dan dalam mengambil keuntungan. Renternir, Koperasi, Perbankan, Bursa efek, Surat Utang Negara, Leasing kredit motor-mobil-barang menggunakan riba untuk mendapatkan keuntungan dan modal. Inilah dunia ekonomi saat ini.
Pertanyaannya:
Apa jadinya bila Riba' sudah menjadi budaya? Orang Islam tak lagi Islam bila sudah memakai Riba'. Dimana iman Islam dan ketakwaannya?
Menurut kalian, Bagaimana?
Bagi orang Islam yang nggak ngerti Al Quran, riba dianggap lumrah atau hal biasa dan bukan hal yang haram. Padahal Allah larang manusia untuk menggunakan riba. Entah apa karena riba sudah mengakar dalam sistem ekonomi dan sudah membudaya? atau memang orang Islamnya yang nggak ngerti Al Quran? Atau memang kedua duanya.
Nah, Kalian jawab itu!
Allah telah menegaskan kepada manusia bahwa riba itu haram. Sebagaimana FirmanNya dalam surat Al Baqarah (2) ayat 275-276, 278;
اَلَّذِيۡنَ يَاۡكُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا كَمَا يَقُوۡمُ الَّذِىۡ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّؕ ذٰ لِكَ بِاَنَّهُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَيۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَهٗ مَوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّهٖ فَانۡتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَؕ وَاَمۡرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِؕ وَمَنۡ عَادَ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ ﴿٢٧٥﴾
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
يَمۡحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرۡبِى الصَّدَقٰتِؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيۡمٍ ﴿٢٧٦﴾
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.
اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمۡ اَجۡرُهُمۡ عِنۡدَ رَبِّهِمۡۚ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَ ﴿٢٧٧﴾
Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوۡا مَا بَقِىَ مِنَ الرِّبٰٓوا اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ ﴿٢٧٨﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.
فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖۚ وَاِنۡ تُبۡتُمۡ فَلَـكُمۡ رُءُوۡسُ اَمۡوَالِكُمۡۚ لَا تَظۡلِمُوۡنَ وَلَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿٢٧٩﴾
Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).
وَاِنۡ كَانَ ذُوۡ عُسۡرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيۡسَرَةٍ ؕ وَاَنۡ تَصَدَّقُوۡا خَيۡرٌ لَّـكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿٢٨٠﴾
Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
وَاتَّقُوۡا يَوۡمًا تُرۡجَعُوۡنَ فِيۡهِ اِلَى اللّٰهِ ۖ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفۡسٍ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُوۡنَ ﴿٢٨١﴾
Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).
Akan tetapi sistem ekonomi negara Indonesia menerapkan interest/riba dalam aplikasinya yang berakibat mau atau tidak mau masyarakat Islam terpaksa menggunakan fasilitas yang ada ribanya. Namun demikian beberapa dekade ini sudah ada perbankan yang menerapkan ekonomi syariah untuk melayani masyarakat yang tidak ingin memakai riba. Akan tetapi layanan syariah ini tidak banyak sehingga tidak sepopuler layanan yang ada ribanya. Selain itu masyarakat sudah terbiasa dengan layanan yang ada ribanya, dan hijrah ke layanan syariah akan terasa rumit karena masih asing dan tidak banyak yang menyediakan.
Apabila sudah demikian, dimana iman islam dan ketakwaannya?
Begitulah bila riba sudah jadi budaya, sudah mengakar pada sistem ekonomi negara karena riba dilegalkan. Orang Islam kebanyakan sudah tidak memikirkan riba itu haram/dilarang Allah. Mereka hanya tahu bagaimana caranya bisa survive di dunia ini, punya ini dan itu untuk memenuhi kebutuhan/keperluannya dengan kredit meskipun tahu itu riba. Saya yakin mereka melakukan itu karena riba legal di negara Indonesia.
Ali Imran (3) ayat 130;
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَۚ ﴿١٣٠﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
An Nisa (4) ayat 161-162
وَّاَخۡذِهِمُ الرِّبٰوا وَقَدۡ نُهُوۡا عَنۡهُ وَاَكۡلِـهِمۡ اَمۡوَالَ النَّاسِ بِالۡبَاطِلِ ؕ وَاَعۡتَدۡنَـا لِلۡـكٰفِرِيۡنَ مِنۡهُمۡ عَذَابًا اَ لِيۡمًا ﴿١٦١﴾
dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah (batil). Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.
لٰـكِنِ الرّٰسِخُوۡنَ فِى الۡعِلۡمِ مِنۡهُمۡ وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ يُـؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡكَ وَمَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِكَ وَالۡمُقِيۡمِيۡنَ الصَّلٰوةَ وَالۡمُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ سَنُؤۡتِيۡهِمۡ اَجۡرًا عَظِيۡمًا ﴿١٦٢﴾
Tetapi orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka, dan orang-orang yang beriman, mereka beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kepada (kitab-kitab) yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat dan beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar.
Ar Rum (30) ayat 39
وَمَاۤ اٰتَيۡتُمۡ مِّنۡ رِّبًا لِّيَرۡبُوَا۟ فِىۡۤ اَمۡوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرۡبُوۡا عِنۡدَ اللّٰهِۚ وَمَاۤ اٰتَيۡتُمۡ مِّنۡ زَكٰوةٍ تُرِيۡدُوۡنَ وَجۡهَ اللّٰهِ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُضۡعِفُوۡنَ ﴿٣٩﴾
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).
Apabila kondisi sistem ekonomi negara melegalkan riba, Allah Swt telah memberikan jalan keluar bagi orang orang yang beriman kepada Al Quran untuk tidak membeli dan menjual atau hutang-piutang dengan sistem riba sebagaimana pada surat An Nisa ayat 162. Maka Allah akan memberikan mereka pahala yang besar di dunia dan di akhirat. Ingatlah bahwa riba adalah salah satu larangan Allah dan merupakan ujian hidup manusia di dunia.
Tapi tak hanya itu, Allah juga memerintahkan untuk memerangi riba sebagaimana pada surat Al Baqarah di atas hingga riba itu musnah. Hal ini berarti sistem hutang-piutang dan jual-beli secara kredit sudah tidak ada lagi ribanya.
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.
Inilah yang harus dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah dan Al Quran. Tidak menjalankan dan memakai riba, dan memerangi riba pada sistem jual-beli dan hutang-piutang hingga riba itu musnah tidak diterapkan lagi. Pastinya tidak tunduk pada sistem ekonomi riba.
Sebagai penutup marilah kita berdoa bersama sama kepada Allah, mudah mudahan riba tak lagi menjangkiti umat muslim.
Surat Ali Imran ayat 8.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ رَحۡمَةً ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡوَهَّابُ ﴿٨﴾
rabbanā lā tuzig qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
Sekian artikel pada bulan suci ramadhan ini, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar besarnya.
Wabilahitaufiq wal hidayah, Wassalamualaikum wr wb.
Penulis: Raden Yudha Kusuma, S.E