Anak anak yang bekerja sebagai pemulung. Gambar: Freepik.

Assalamualaikum wr wb.

Marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan nikmatNya kepada kita. Kita harus pandai mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. 

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillahirabbil alamiin Wasyukurillah.

Shalawat dan salam kita ucapkan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah menyampaikan petunjuk Allah Swt untuk menghadapi / menjalani kehidupan dunia ini. 

Allahumma shalli ala Muhammad, wa ala ali sayyidina Muhammad.

Pada awalan ini saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan juga kepada muslimin dan muslimat, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dengan sekuat tenaga dan semampu kita menjalankannya. Jangan sampai lalai dalam bertakwa. Mudah mudahan Allah Swt mengampuni kesalahan kesalahan kita. Amin ya rabbal alamiin.

Pada kali ini saya akan membahas tentang pengaruh kemiskinan pada kesehatan jasmani dan rohani dengan judul:

Kemiskinan! Faktor penyebab gangguan &/ kelainan pada kesehatan fisik, mental, kejiwaan dan perilaku menyimpang. Apa solusi dari Allah Swt dalam kitab Al Quran.

Kemiskinan menjadi momok bagi suatu negara. Negara ada untuk mensejahterahkan rakyatnya, bukan menelantarkannya. Tiap tiap negara berlomba lomba untuk mengentaskan kemiskinan rakyatnya. Tapi hasilnya nihil. Bukannya semakin berkurang tetapi justru semakin meningkat.

Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang meningkat dan jumlah industri usaha yang tetap stagnan. Akan tetapi disini saya tidak akan membahas ini panjang lebar, dan akan dibahas pada sesi lainnya. 

Kemiskinan bagi kebanyakan orang, tidak menghalangi mereka untuk berumah tangga. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat dengan ekonomi rendah dan berpendidikan rendah. Apabila menunggu kaya raya, maka tidak akan nikah nikah. Alhasil, banyak keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Suami, istri, dan anak anaknya hidup dalam kemiskinan dan hidup dari kata layak.

Kebanyakan masyarakat dengan ekonomi rendah tidak memahami dampak hidup berumah tangga dalam kemiskinan. Mereka hanya mengikuti kebutuhan dasar dan sosial masyakat. Hal itu memang tak bisa dihindari dan dipungkiri, akan tetapi dampaknya sangat signifikan. Dampaknya yaitu pada kesehatan fisik, mental, kejiwaan, dan perilaku menyimpang, terutama terhadap anak hingga dewasanya.

1. Pengaruh dan dampak kemiskinan terhadap kesehatan fisik.

Hidup kemiskinan bisa membuat orang jatuh sakit karena mall nutrisi atau kurang makan. Dalam jangka panjang bisa berakibat sakit kronis dan kejiwaan terutama terhadap anak. Bagaimanapun, keadaan ekonomi seseorang atau keluarga sangat menentukan kesehatan seseorang atau keluarga tersebut meskipun ada faktor lain yang mempengaruhinya yaitu pendidikan/pengetahuan tentang kesehatan (hidup sehat). Orang kaya raya pun juga bisa sakit karena kurangnya pengetahuan hidup sehat. Lalu apa solusi dari Allah dalam Al Quran? Perhatikanlah Surat Abasa ayat 24.

فَلۡيَنۡظُرِ الۡاِنۡسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖۤۙ ﴿٢٤﴾

Maka hendaklah manusia itu memerhatikan makanannya,

Allah telah memberikan petunjukNya kepada kita untuk hidup sehat. Itulah solusi dari Allah. Ayat tersebut menerangkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk memperhatikan makanan yang kita makan. Makanan yang kita makan sangatlah menentukan kesehatan kita. Kita harus tahu apa yang akan kita makan berdasarkan kebutuhan tubuh kita. Bukan asal makan dan yang penting kenyang meskipun kenyang adalah hal terpenting. 

Tubuh kita perlu asupan makanan dan nutrisi yang cukup untuk mendukung aktivitas hidup kita. Kebutuhan asupan makanan dan nutrisi dengan aktivitas hidup kita haruslah seimbang agar tubuh selalu sehat. Selain itu kandungan dalam makanan kita juga tidak boleh berlebih dan kekurangan. Hal hal inilah yang dimaksudkan Allah dalam firmanNya pada ayat tersebut di atas.

Hal tersebut di atas perihal pengaruh kemiskinan terhadap kesehatan fisik. Sedangkan untuk solusi ekonomi keluarga adalah berdasarkan firman Allah surat Ar ra'd ayat 11

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ ﴿١١﴾

lahụ mu'aqqibātum mim baini yadaihi wa min khalfihī yaḥfaẓụnahụ min amrillāh, innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Maksudnya adalah bahwa lapangan kerja dan lapangan usaha adalah urusan pemerintah tiap tiap negara. Kaya atau miskinnya rakyat tergantung pada pemerintahnya yang mengelola negara. Hal ini telah ditegaskan pada ayat tersebut di atas.

Namun tak hanya itu saja, Allah perintahkan penduduk negeri untuk bertakwa (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah) agar perilaku penduduknya benar sehingga tercipta keadaan yang aman, tentram, adil, dan sejahtera serta terhindar dari bencana termasuk bencana alam. Apabila tidak demikian, maka sebaliknya yang akan terjadi sebagaimana firmanNya Surat Al A'raf ayat 96.

وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ‏ ﴿٩٦﴾

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.


2. Pengaruh dan dampak kemiskinan terhadap mental.

Hidup dalam kemiskinan akan berdampak pada kesehatan mental terutama terhadap anak. Tumbuh kembang mental anak sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga dan keadaan ekonomi masyarakat terutama lingkungan tempat tinggalnya. 

Mental orang kaya atau orang miskin itu sudah pasti berbeda. Secara sosial ekonomi, harkat, martabat, dan derajat orang/keluarga dengan ekonomi yang layak atau lebih tinggi sudah pasti mentalnya sangat bagus. Namun bukan berarti dalam perilaku tidak ada penyimpangan. Mental orang kaya dan orang miskin apabila tidak dikelola dengan baik dan benar maka bisa berakibat pada penyimpangan perilaku yaitu bisa saling menyakiti antar sesama golongannya, atau si kaya dengan si miskin.

Disinilah pentingnya peran ajaran agama Allah dalam menjalani kehidupan. Allah perintahkan kepada orang kaya dan orang miskin untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya sehingga perilaku manusia tidak menyimpang secara sosial masyarakat dan agama. Tidak iri dengki dan bertikai antar sesama orang miskin, atau bahkan bertikai antara si kaya dan si miskin.

Apabila mentalitas seseorang tidak dikelola dengan baik dan benar, maka akan menimbulkan perilaku menyimpang antara orang kaya dan orang miskin. Dalam Al Quran telah dijelaskan tentang apa saja yang harus dilakukan oleh orang kaya, dan apa yang harus dilakukan oleh orang miskin. 

3. Pengaruh dan dampak kemiskinan terhadap kejiwaan.

Kemiskinan jelas akan mempengaruhi pikiran atau kejiwaan seseorang. Apabila seseorang kurang makan maka bisa berakibat sakit. Dalam jangka panjang bisa berakibat pada kejiwaan. 

Kemiskinan dalam urusan makan, dan kebutuhan dasar lainnya akan sangat membentuk karakter iri dengki dan perilaku menyimpang, terutama pada anak hingga dewasanya. Istilah dalam bahasa kedokteran itu "mind set". 

Inilah mengapa kemiskinan berdampak besar terhadap kesehatan fisik dan jiwa. Agar jiwa kita sehat dan cerdas, kita harus menjaga kesehatan fisik. Makan teratur dan takarannya harus cukup sesuai dengan aktivitas kita sebagaimana Firman Allah di atas. Tidak boleh malas makan atau menunda nunda makan ketika sudah lapar. 

Apabila seseorang sering dalam kondisi lapar, maka kondisi kesehatan fisik dan jiwanya (emosi dan kecerdasannya) akan tergangggu. Apabila dibiasakan maka kejiwaannya yang akan terganggu. Sungguh bahaya yang mengkawatirkan. Ekonomi keluarga sebagai penyebabnya, dan juga faktor pendidikan pengetahuan kesehatan (hidup sehat) sebagaimana saya sebutkan di atas.

Semua manusia pasti ingin hidup sejahtera. Urusan pangan tercukupi, dan kebutuhan dasar lainnya terpenuhi. Untuk mendapatkan itu semua, manusia harus berjuang dan menempuh jalan yang benar (halal). Tidak mudah, tapi harus, dan harus bersabar dan bertawakkal kepada Allah Swt.

4. Pengaruh dan dampak kemiskinan terhadap perilaku. 

Kemiskinan memberikan pengaruh yang besar terhadap perilaku. Manusia tidak hidup sendiri di dunia ini. Manusia makhluk majemuk. Tidak semua orang dilahirkan kaya raya, dan tidak semua orang dilahirkan hidup miskin. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin pasti terjadi. Hal ini bisa berakibat konflik apabila mereka tidak bertakwa kepada Allah Swt. Akhirnya timbul iri dengki oleh si miskin, dan suka merendahkan orang lain oleh si kaya atau bahkan terhadap sesama golongannya. 

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa bertahan hidup di dunia dalam kemajemukan tidaklah mudah. Terlebih bagi orang miskin dengan keadaan ekonomi negara yang tidak bagus. Cari kerja susah, mau usaha tidak punya modal. Kalau dapat penghasilan cuman cukup untuk makan sendiri. Akhirnya hidup dalam kemiskinan. Terlebih hidup berkeluarga dalam kemiskinan. Apabila melihat orang lain/keluarga lain hidup berkecukupan/kaya sudah pasti timbul iri, kecuali bagi orang/keluarga yang bertakwa.

Kemiskinan dalam keluarga berdampak besar terutama terhadap tumbuh kembang si anak hingga menginjak dewasa, secara kesehatan fisik, mental, kejiwaan, dan perilaku. Kesehatan fisik, mental, kejiwaan, dan perilakunya di bentuk atau dibangun oleh kemiskinan. Istilah medisnya itu "Mind set". Hal ini terjadi pada oknum teroris TNI AD Jombang berdasarkan pengamatan saya pada perilaku kejahatannya yang dimotivasi oleh mindset kemiskinannya. Terlebih oknum ini adalah tentara. Kalau tidak menyerang menjahati orang lain, ya membunuh. 

Apabila seorang anak hingga dewasanya hidup dalam kemiskinan, kemungkinan besar perilakunya akan menyimpang yang dimotivasi oleh iri dengki terhadap orang lain yang hidup berkecukupan. Menyakiti, menjahati, fitnah, mencuri, menipu, bahkan merampok terlebih disertai kekerasan dan pembunuhan. Bagi wanita, apabila tidak berdaya sudah pasti ngelonte/melacur. 

Harta benda adalah perhiasan dunia. Semua orang menginginkannya. Sebagai manusia modern sudah pasti tidak bisa mengelakkan diri terlebih besarnya pengaruh sosial media. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk mendapatkan secara benar dan halal, bukan secara maksiat dan kejahatan.

Solusi dari Allah Swt adalah bertakwa. Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, terutama dan pertama adalah harus pandai memahami Al Quran sebagai petunjuk dan tuntunan dalam menjalani hidup. Dengan memahami Al Quran diharapkan manusia tahu apa saja perintah Allah dan larangan Allah. Tujuan utama yang diharapkan Allah adalah perilakunya tidak menyimpang, bisa mengendalikan diri atas dasar ajaran takwa. Tidak menyakiti atau menjahati orang lain.

Harapannya apabila masyarakat bertakwa, kelak apabila nanti menjadi pemerintah atau pun tetap menjadi rakyat inshaAllah akan menghadirkan pemerintahan yang bertakwa dan masyarakat yang bertakwa sehingga tercapailah kehidupan yang sejahtera bebas dari kemiskinan dan kejahatan. Apa saja yang diperintahkan Allah dijalankan dan apa saja yang dilarang Allah dihindari.

Sebagai penutup marilah kita berdoa kepada Allah Swt.

Ya Allah ya Tuhanku. Ampunilah dosaku, belas kasihinilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajat kami dan berilah rezeki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.

Itulah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Apabila ada salah kata dan kurang lebihnya saya mohon maaf. Wassalamualaikum wr wb.

Penulis: Raden Yudha Kusuma, S.E