Gambar: Logo PSSI. Sumber: Pinterest.
Jika kita melihat sepak bola negara kita tidak maju maju atau tidak bisa juara juara terus pasti ada penyebabnya. Penyebabnya yaitu ada pada kualitas pemainnya. Sebagaimana saya perhatikan, kalau pemain lokal kita main itu seperti pemain kelas tarkam (antar kampung) bukan kelas level nasional. Bukannya saya mengejek, tapi kenyataanya demikian meskipun itu adalah pemain lokal dengan harga mahal.
Bagaimana tidak?
Mereka itu belajarnya otodidak sedari kecil. Tidak diajari dan dibina oleh pelatih profesional. Pokoknya bisa menggiring bola, nendang dan ngoper bola sudah bisa dikatakan pinter "bal balan". Lalu masuk timnas sepak bola Indonesia. Oleh karena itu pantesan kalah. Indonesia jarang juara walaupun pelatih timnasnya hebat hebat. Soalnya skillnya masih kampungan.
Bagaimana yang benar?
Begini caranya!
Kalau timnas Indonesia pingin sering juara dengan pemain lokal, harus pilih pemain yang berkualitas. Untuk mendapatkan pemain berkualitas dari stok pemain sepak bola yang ada di Indonesia itu tidak mudah kalau sebagian besar pemain skillnya kampungan. Walaupun dari segi harga pasaran tinggi tapi tetap masih belum setara dengan harga pasaran pemain lawan.
Disinilah peran PSSI sebagai pengatur dan pembina. Kebijakannya yaitu:
- Klub sepak bola Liga 1, 2, dan 3 harus membina SSB (Sekolah Sepak Bola) sebanyak mungkin.
- Klub kelompok U16 harus merekrut pemain dari SSB binaannya pada kelompok U16.
- Klub kelompok U19 boleh merekrut pemain dari klub lain selain dari akademinya sendiri. Begitu pula dengan Klub kelompok U21 dan kelompok senior.
- Syarat wajibnya sudah pasti harus lulusan SSB (Sekolah Sepak Bola,) bukan dari otodidak. Selain itu Klub harus punya pemain dengan tinggi badan 180cm dengan kuota 50% dan tinggi badan minimal 170cm adalah sisanya.
- Namun PSSI mungkin juga perlu memberi kesempatan bagi pemain otodidak berprestasi untuk membela klub dengan kuota 10-15% dari keseluruhan pemain lokal klub.
- PSSI harus memberikan bahan ajaran tingkat dasar hingga pro kepada SSB, dan Klub. Bahan ajarannya berupa teknik bermain bola yang baik dan benar, aturan main, menjaga kesehatan dan stamina, serta berkarir sebagai pesepak bola. Ajaran inilah yang akan menjadikan pemain sepak bola Indonesia berkualitas dan berprestasi yang inshaAllah bisa membuat timnas juara terus.
- Selain itu juga harus membuat standarisasi pemain berkualitas dengan memberikan ujian secara tertulis dan praktik; contohnya cara benar menendang, mengoper, menyundul. Dari 10 sundulan, minimal 8 gol yang masuk. Begitu pula dengan teknik yang lainnya. Harus ada rapor dan bahkan ujian sepak bola nasional jika perlu. Namun demikian pendidikan formal SD, SMP, dan SMA tetap utama karena itu adalah fondasi kepintaran dan juga bisa dijadikan bahan tambahan penilaian.
- PSSI juga harus menentukan pakem permainan sebagai karakter dan budaya permainan di Tim Nasional hingga ke level SSB, contohnya: Tiki taka, Kick and Rush, atau menggabungkan keduanya. Ini merupakan ajaran pokok yang harus diterapkan di SSB dan klub. Sehingga ketika di Tim Nasional atau di level klub senior, permainannya itu akan bagus dan berada di level tinggi. Jadi permainan Timnas punya karakter meskipun gonta ganti pelatih. Pelatih timnas harus menyempurnakan karakter permainan yang sudah ditetapkan. Bukannya pemain ikuti gaya pelatih, tetapi pelatih harus mengikuti gaya, budaya dan karakter permainan sepak bola yang telah ditetapkan PSSI.
- PSSI harus memberi diklat berkesinambungan dan test serta sertifikasi kepelatihan SSB, Pelatih klub kelompok usia U16, U19, dan U21.
- PSSI juga harus memberikan batuan finansial, atau subsidi, dan bantuan peralatan kepada SSB. Dana bisa dari Pemerintah dan Sponsor.
- Jumlah SSB (Sekolah Sepak Bola) harus merata di setiap daerah dengan menggandeng Gubernur dan Bupati untuk mengembangkan talenta pesepak bola Indonesia. Dengan demikian pembinaan pemain sepakbola Indonesia terstruktur dan terorganisir, bukan dari otodidak yang menghasilkan pemain timnas kelas permainan kampungan, kecuali jika pemain itu memang pintar. Tapi hanya akan ada segelintir pemain otodidak yang bagus.
Hasilnya, pelatih Timnas dan klub bisa sangat mudah memilih pemain berkualitas dengan level tinggi dan pastinya harga pasarannya juga akan sangat tinggi dibanding harga pemain saat ini. Selain menghasilkan pemain berkualitas, juga menghasilkan pelatih sepak bola yang berkualitas pula.
Tentu ide ide saya ini tidak mudah dan murah diaplikasikan. Kalau ingin punya timnas sepak bola yang punya permainan berkarakter dan pemain level tinggi, itulah solusinya. Kualitas permainan bola liganya bagus, permainan timnasnya juga bagus. Pemain pemainnya didapat dari pembinaan yang terstruktur, terorganisir, dan terdidik. Menghasilkan pemain pemain berkualitas dengan rata rata harga tinggi. Alangkah baiknya apabila pemain berkualitas ini bermain di liga liga negara lain. Bisa membantu negara menghasilkan devisa dan pertumbuhan ekonomi negara serta pertumbuhan daerah.
Tapi tentunya tidak berhenti sampai di sini saja, metode ini bisa diterapkan di berbagai bidang olah raga lainnya seperti olahraga bola basket, bola voli, dan cabang olah raga lainnya yang punya potensial ekonomi besar atau hanya sekedar prestasi.
Apabila anda suka dengan konten saya, jangan lupa like and follow instagram saya dan dengarkan lagu lagu ciptaan saya.
Disusun dan ditulis oleh: Raden Yudha Kusuma, S.E.
Instagram: Radenyudha981. Like and Follow.
Dengarkan lagu laguku di Spotify, Apple music, Youtube musik, dll.
